[instropeksi]Jati Diri

Tinggal kamu percaya atau engga’? itu dulu pertanyaan yang harus dijawab.

Seburuk-buruknya, kalau kamu masih percaya, semua masih bisa diperbaiki. Lain cerita kalau sudah nggak percaya, mau usaha apapun juga, karena awalnya sudah nggak percaya, ya sudah, wassalam.

Seperti yang sekarang ini. Kamu percaya Tuhan Maha Pengampun. Yaw is, titik. Jangan terlalu berlarut dalam penyesalan. Penyesalan hanya akan membuatmu malu untuk mendekat. Dan malah berlarut-larut dalam dosa itu sendiri.

Tapi memang kalau namanya orang taubat yang bener itu ada adab-adabnya, Son. Nggak cuma di mulut doank. Harus dibarengi dengan penyesalan yang sungguh-sungguh, janji untuk tidak mengulangi lagi. Dan membenci perbuatan dosannya di dalam hati. Benci sebenci-bencinya.

Kalau dipikir-dpikir lagi, seorang aku memang lemah tekad. Gampang tergoda. Ah, payah!

Aku benci menjadikan materi sebagai tolok ukur kesuksesan dan kebahagiaan. Itu hanya sebagian kecil, kecilllll sekali, dari kesuksesan dan kebahagiaan. Ingat lah baik-baik dalam hati, pekerjaan yang halal yang dikerjakan dengan tulus dan senang hati, sejatinya, itu lah kebahagiaan. Seberapapun nominal yang kita dapat. Tapi kalau kita tulus dan senang hati menjalaninya, insyaAlloh itu membuat hati kita bahagia. Kesuksesan? Ya apa ya, sekarang inikehidupan materialisme sudah menggerogoti pemahaman kita. Segala sesuatu kita ukur dengan materi. Bahagia, sukses, bahkan cinta sekali pun, kita ukur dengan materi.

Aha, aku termasuk dalam paham itu, Kawan. Jangan bilang aku sok tak butuh materi gitu dunk. Jujur, aku masih dalam tahap mencari pemahaman yang benar tentang hidup. Semakin cepat aku menemukannya, tentu itu lebih baik. Menghindarkan aku dari ketidakjelasan, terkatung-katung di tengah samudera pertanyaan yang tak kunjung ada tepinya ini.

Selalu menjadi lebih baik itu bagus. Tak ada yang menyalahkan. Justeru kalau kita stuck saja dalam satu tempat, dalam satu hal dan tak juga beranjak, itu yang berbahaya. Air yang mengalir lebih baik daripada air yang menggenang. Kita akan merasa besar, merasa kita sudah bisa semuanya. Bukankah itu lebih buruk?

Di usia yang menginjak dua puluh tiga dan belum punya prinsip, tentu itu hal konyol. Tapi itulah kenyataannya. Dan aku pikir, diluar sana banyak orang sepertiku. Orang yang tak punya pegangan yang benar dalam menjalani hidup. Sebagai pribadi muslim, tentu aku tak perlu jauh-jauh mencari pegangan itu. Tak perlu jauh-jauh mencari suri tauladan. Pegangan yang paling benar tentu saja Qur’an dan Sunnah. Dan suri tauladan yang baik tentu saja Nabi Muhammad SAW. Sekarang sebenarnya, tinggal bagaimana aku memahami dan mengaplikasikan semua itu dalam kehidupanku.

Jujur, aku orang awam dengan keyakinanku sendiri. Terjauhkan dari Al Qur’an. Membaca sebatas bilang indah-indah saja. Padahal, di salah satu artikel di eramuslim.com pernah dijelaskan tentang hak-hak Al Qur’an. Pertama, baca dengan baik dan benar. Maksudnya baik dan benar tentu saja tajwid dan segala macamnya, serta adab-adab kita dalam membaca Al Qur’an harus benar. Kedua, tidak berhenti pada membaca saja. kalau Cuma dibaca tapi tidak paham apa isinya, itu sama saja kan? Yang kedua tentu saja memahaminya. Yang ini tak perlu aku jelaskan secara rinci. Semuanya sudah tahu. Yang ketiga, menghafal. Keempat mengamalkan, yang kelima mengajarkan kepada orang lain.

Semoga, kita bisa membangun kembali pondasi-pondasi umat islam di mulai dari diri kita sendiri. Kita tidak menutup mata dengan kemajuan zaman. Tapi yang paling pertama tentu saja kita perkokoh dulu pondasi kepercayaan kita. Agar segala apa yang kita dapat tidak serta merta kita telan mentah-mentah. Kita filter dulu, kita saring bener apa engga’, sesuai apa engga’ dengan keyakinan kita. Kalau memang cocok dan bermanfaat, ambil ilmunya. Kembangkan. Gunakan prinsip AMT, analisa, modifikasi, terapkan (kalau tidak salah). Tapi kalau itu bertentangan dengan keyakinan kita, buang! Buang jauh-jauh. seberapa pun menarik. Dan benci dalam hati kita dengan benci sebenar-benar benci. Dan jangan ada penyesalan. Tentu keyakinan kita yang berdasar Qur’an dan Sunnah lah yang paling benar.

Hemmm. Rasanya sudah cukup berkeluh kesah. Semoga ini menjadi perantaraku untuk senantiasa berinstropeksi…
Previous
Next Post »