Cerpen2an

“Apa yang akan kau katakan kepadanya?”

Tercenung lesu memikirkan pertanyaan itu. Awalnya aku pikir mudah. Semudah membuatnya tersenyum lagi ketika marah melanda. Tapi ini urusannya beda, bukan soal membuat dia marah atau tersenyum. Ini soal pilihan hati. Tentang teman merajut masa depan kelak. Bisa saja aku terus terang padanya, dan pergi begitu saja. Toh ini bukan urusanku. Karena selama ini aku hanya menjadi tameng dikala duka menghantuinya. Ketika tiba-tiba teman laki-lakinya membatalkan janji tanpa alasan. Aku hanya menjadi pendengar setia, menjadi badut yang membuatnya kembali tertawa.

Tapi jujur, jauh di lubuk hatiku aku juga menyayanginya. Itu yang membuat aku tak bisa begitu saja pergi dari hidupnya. Entah kapan perasaan itu tumbuh. Mungkin sudah lama. Sebelum dia mengenal pria brengsek yang berlagak itu. Bukan aku bermaksud membuat penilaian buruk tentang seseorang, tapi memang seperti itulah kenyataanya. Kalau saja Niah tak cinta mati pada pria itu, mungkin aku sudah menghajarnya dari dulu-dulu. Entah kenapa, Niah selalu tak percaya ketika aku mengatakan kebeneran tentang pria itu. Niah hanya akan berujar, “Adam bukan pria seperti itu!”

Semua bermula ketika reuni SMA kami. Dan terjadi begitu saja. Niah yang buru-buru keluar ruangan, tanpa sengaja menabrak Adam yang berdiri membelakanginya. Diawali dari basa-basi biasa, kemudian berlanjut menjadi pertemuan yang lebih intens. Ahhh, aku tak akan pernah protes bila saja pria yang mendekati Niah itu bukan Adam, playboy kelas kakap semenjak SMA. “Ah, itu kan dulu waktu SMA” bela Niah ketika aku mencoba memberi pengertian padanya. Dan sebulan setelah kejadian itu, Niah dan Adam resmi menjadi seorang kekasih. Dan aku, aku tiba-tiba tersingkir dari kehidupan Niah sebagai seorang teman. Niah lebih sibuk dengan Adam. Hanya mendatangiku seperlunya saja. Maksudku benar-benar perlu. Perlu untuk berkeluh kesah, membuang segala unek-unek di dalam hatinya. Aku tak lebih seperti tong sampah, atau lebih buruknya lagi, aku ibarat jamban. Mencari-cariku ketika butuh, terkadang harus berlari-lari untuk mencariku. Dan melupakan begitu saja dengan membuang beban berat kepadaku.

*****

Hujan sore itu menjadi awal dari semua ini. Aku selalu tak bisa percaya kepada Adam. Dimataku dia masih Adam yang dulu, pria berperangai buruk dan playboy kelas kakap. Entah kenapa sore itu aku tak segera beranjak pulang dari tempat kerja. Masih ingin berlama-lama di meja kerjaku. Padahal tumpukan berkas sudah kurapikan semua, komputer sudah aku matikan dari setengah jam yang lalu. Praktis aku hanya duduk tanpa melakukan apapun. Sabtu sore yang hujan sepreti ini adalah kesukaan Niah, biasanya kami habiskan dengan bercanda di depan kamar kostnya hingga malam. tapi tidak dengan sabtu sore kali ini, Niah sabtu ini sudah ada jadwal dengan Adam.

#ceritanya pengen bikin cerita SMA-SMAan gitu dah. Kayak yang di FTV-FTV. Tapi susah ternyata. Nggak selesai deh#
Previous
Next Post »