Kita Masa Lalu

Merajuk sesuka hati. Merengek tiada henti. Masa bodoh dan tidak mau tahu. Keras kepala. Tak mau mendengar nasihat. Kabur dari rumah bila tak terpenuhi. Dan pilihan kata yang ditahu dari kamus cuma kata HARUS. HARUS, HARUS dan HARUS!!! 

Tahukah itu siapa?

Aku di masa muda. Kita di masa muda. Masa putih-biru kemudian putih abu-abu. Masa transisi dari anak kecil menuju remaja. Masa dimana pita suara tak lagi kecil. Suara yang dulunya seperti suara nobita berubah menjadi seperti suara Giant kalau lagi nyanyi. Besar dan jelek!

Selera musik pun mulai bergeser. Kaset anak-anak tentang ular putih dan yoko diganti dengan kaset-kaset band pop yang lagi ngehits di masa itu. Tersempil juga di antara deretan koleksi kaset, lagu-lagu hits pop-rock Malaysia yang dulu sempat merajai peta selera musik negeri ini.

Penampilan pun mulai berubah. Mulai peduli dengan tampilan di muka umum. Mulai sering mematut diri di depan cermin sebelum pergi. Sudah rapikah anda? Khawatir dicap berpenampilan buruk oleh lawan jenis. Apalagi di depan cewek yang ditaksir, bisa malu setengah mati bila penampilannya buruk.

Masih ingatkah masa itu?

Mungkin sebagian ada yang mengalami fase seperti aku. Tapi sebagian yang lain mungkin tidak.

Aku sendiri masih ingat detail-detail tentang kerasa kepala, rajukan dan sifat-sifat rebelku dulu.

*****

Memang dulu tak ada yang salah dengan semua ini. Sekarang pun tidak. Karena itu adalah fase. Dimana kapasitas kita untuk memahami berbeda. Semakin bertumbuh, pemahaman kita sedikit demi sedikit mulai terbuka. Lingkungan pergaulan dan pengalaman yang menempa sedikit banyak juga membuat kita berbeda dari masa lampau. 

Ingin bercerita tentang ini karena beberapa waktu lalu seorang teman, sedang dipusingkan anaknya yang sekarang duduk di kelas satu SMA, dengan banyak hal ini-itu. Apa maksud ini itu? Ini-itu adalah pernak-pernik bertumbuh anaknya. Fase yang dulu aku juga mengalami. Aku mafhum dengan tuntutan anaknya. Di lain sisi, sekarang aku pun paham sudut pandang dari arah yang lain. Sudut pandang sebagai orangtua. Ternyata, seperti ini to posisi menjadi orangtua dengan kondisi anak yang rebel. Aku pun sejenak kembali ke masa lalu dan memosisikan diri menjadi sang anak. Minta ini-itu dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tidak mau tahu kebutuhan orang tua. Tidak mau tahu cara dapetnya darimana. Tidak mau tahu kalau orangtua banting tulang siang malam demi memenuhi kebutuhan kita. Bahasa kasarnya, kita menjadi orang yang masa bodoh

Hikmahnya apa? Banyak. Banyak banget malah. Melihat dari berbagai arah masalah ini. Dan sebenarnya ini bukan masalah. Memang inilah fase pertumbuhan anak. Kurasa, semua orang mengalami fase remaja seperti ini. Masa-masa rebel dan pencarian jati diri. Masa merasa kita sok jago dan tidak butuh nasihat dari siapapun. Tidak ingin juga diatur-atur oleh siapapun, bahkan oleh orangtua ataupun keluarga. 

Hikmah pertama yang mungkin bisa aku catet. Ternyata, untuk menjadi orangtua itu tidak gampang. Perlu kesabaran, keikhlasan, ketulusan dan banyak atribut kebaikan diri yang harus disandang, untuk mengarahkan anak menjadi orang yang benar di kemudian hari. Amanah besar yang bila salah urus, bisa membuat banyak orang kerepotan. Membuat repot si anak sendiri, orangtua, keluarga, bahkan lingkungan masyrakat. 

Hikmah kedua adalah, menjadi anak baik itu tidak gampang. Mengerti dengan baik kondisi orangtua kita. Tidak terlalu banyak menuntut dan menurut terhadap perkataan mereka. Lagi-lagi aku ngomong ini adalah fase. Semoga fase ini terlewati dengan baik. Karena kelak, ketika kita sudah mulai dewasa, kita insyaAlloh akan bisa memahami kondisi orang tua dan memosisikan diri di posisi mereka.

Hikmah ketiganya, hemmm… silahkan cari sendiri. Hehe. Sudah pukul Sembilan teng. Mari kita menyambut pekerjaan kita di hari Jumat ini dengan bismillah. Semoga berkah semua pekerjaan teman-teman yaaa…

Previous
Next Post »